:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

Kyai Falak Era
Millennium


Image
KH. Dr. Ahmad Izzudin, M.Ag

Banyak tokoh muslim kita yang sukses lahir dari didikan orang tua yang keras.  Begitu pula dengan tokoh satu ini, Kyai kelahiran Kudus dengan segudang pengabdian untuk umat dan majunya Ilmu Falak. Kepribadian dan perjuangan beliau dalam membumikan ilmu yang sangat langka, yaitu Ilmu Falak mendapat perhatian manakala kita mengamati perjalanan hidupnya. Dengan berbagai kisah, pengalaman, dan cerita yang masih saya ingat, sebagai muridnya selama di Semarang sampai dengan sekarang, pandangan saya terhadap beliau masih tetap sama, sebagai tokoh umat.

Read more...
 
Menuju Qurban Sosial PDF Print
Minggu, 07 Desember 2008
Oleh: Abdullah Hanif

Image Qurban secara etimologis adalah "pendekatan" atau "mendekatkan". Sedangkan secara terminologis adalah penyerahan diri kepada Allah SWT demi mencapai derajat keridlaan-Nya. Dasar ibadah qurban telah disinyalir dalam al-Qur'an “Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah….”. (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).
Titah Allah tentang qurban yang terkandung dalam surat di atas akan mempunyai arti transformatif "radikal" manakala dibaca dengan mengambil referensi setting personal, sosial dan berbagai kategori konteks hidup. Dalam kata lain, semangat ber-qurban pada era Nabi Ibrahim as mungkin berbeda (sosio-kultural) pada era Nabi Muhammad Saw, begitu pula berbeda (sosio-historis) diantara negara yang satu dengan negara yang lain, dan seterusnya.

Agar teks bisa tetap up to date dan terhayati, maka perlu ditransformasikan makna internal dan orisinilnya ke dalam interpretasi yang kondusif dengan dinamika zaman. Artinya, agar teks tidak menjadi kaku dan beku, maka intisari dan semangat yang dibawa nash atau teks itulah yang seharusnya dipahami dengan melebur segala horizon pandangan dan membawanya kepada konteks hidup ketika kita sedang membaca, bukan konteks hidup masa lalu.

Teks qurban, misalnya ia diturunkan dalam kerangka waktu khusus dan historis ketika Muhammad hidup. Tentu saja yang berlaku adalah subyektivitas yang disesuaikan dengan kebudayaan zamannya. Atau, pantulan kehendak autentik tidak diucapkan secara ekuivokal karena kekhasan lagak ragam masyarakat.

Makna Sosial Qurban
Secara historis perintah qurban pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as yang diperintahkan Allah SWT (melalui mimpi yang berulang-ulang sampai tiga kali) agar menyembelih putranya Nabi Ismail as. Perintah ini oleh Nabi Ibrahim kemudian disampaikan (secara dialogis) kepada Putranya Nabi Ismail as. Pada akhirnya Isamil-pun menerima anjuran bapaknya tersebut.

Qurban yang sebenarnya adalah ibadah ghairu mahdhah, masih banyak dirasakan masyarakat muslim berorientasi kepada pahala semata. Sehingga melupakan dimensi ibadah yang berorientasi fungsional demi kemaslahatan kemanusiaan dan karakter ibadah (amal shalih), baik yang bersifat vertikal ataupun horizontal pada hakikatnya tidak semata berorientasi pahala. Akan tetapi lebih kepada sejauh mana ibadah itu memberikan konstribusi sosial-kemanusiaan. Oleh karenanya sentuhan-sentuhan sosial selalu menjadi konsen Islam tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Prinsip dasar amal salih ‘qurban’ yang diajarkan Islam di samping dengan keikhlasan juga harus disampaikan dengan cara yang terbaik. Maka dalam ibadah Qurban dianjurkan dengan hewan yang sehat, besar dan sudah berumur, bahkan pelaksanaan penyembelihannya dilakukan dengan cara yang sakral pula.

Sekarang umat Islam sejak bertahun-tahun menjalankan ibadah qurban, bahkan mungkin secara individu sudah berkali-kali melakukannya. Akan tetapi di balik rutinitas pelaksanaan ibadah qurban tersebut, patut juga dipertanyakan kembali sejauh mana pembentukan semangat ibadah tersebut tidak hanya berhenti pada proses penyembelihan hewan (sebagaimana ditentukan oleh syari'at) saja, akan tetapi bisa membentuk kesadaran kolektif bagi masyarakat muslim untuk senantiasa menjadi manusia yang banyak memberikan kemanfaatan bagi masyarakat banyak. Kemanfaatan yang tidak hanya bersifat sementara saja, akan tetapi manfaat  sepanjang masa.

Imam al-Ghazali memberikan patokan bahwa ibadah qurban hendaknya tidak semata ber-orientasi konteks formalitas, akan tetapi lebih menajamkan pada visi dan misi ibadah itu sendiri. Di dalam al-Qur'an setiap kalimah amilus shalikhah (perbuatan baik), disebutkan senantiasa objeknya kemanusiaan, justru bukan pada nilai pahala semata. Sesungguhnya derajat pahala sangat ditentukan oleh kualitas derajat kemanusiaan. Maka sangatlah tepat jika momentum qurban tahun ini mampu menjadi refleksi kemanusiaan yang tinggi bagi  kaum muslimin untuk menjalankan Ibadah qurban.

Dengan diraihnya titik cahaya dari perintah qurban yang berupa komitmen sosial, maka ia bisa mengalami dinamisasi bentuk ekspresi berdasar fenomena aktual masyarakat dan bahasa kebijaksanaan manusia. Dalam hal ini hukum Emilio Betti tentang interpretasi sensus non est infrendus sed effrendus (makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan), yakni mengharuskan penafsir untuk merekonstruksi makna bersifat aktif.

Di samping kajian teks atau nash juga yang tak kalah penting adalah bahwa Islam adalah agama yang bersifat universal. Sebagaimana tujuan Muhammad dijadikan utusan Allah SWT adalah semata-mata sebagai rahmat bagi semesta alam (inna arsalnaaka illa rahmatan lil alamin). Cakrawala makna universalisme Islam dan kosmopolitanisme peradaban Islam memperkuat tesis tentang keharusan memberi makna baru atas perintah berqurban, sebagaimana juga analisis hermeneutik menghendaki makna yang hidup dan dinamis atas nash qurban.

Watak universal qurban terletak pada dimensi pembebasannya, melawan dominasi, dan ke-tidak-adil-an. Ekspresi bahasa tindakan tersebut akan hilang manakala qurban dipahami sekedar bentuk ritual, tanpa refleksi perasaan dan pengalaman mental atas fenomena aktual. Jika pemaknaan qurban berhenti pada tataran penyembelihan binatang ternak, maka wawasan rahmat universal dari kehadiran Islam telah tereduksi dan tereksploitasi. Inilah tentunya semangat Islam Kaffah (sempurna) yang harus dipahami secara inklusif, proporsional dan metodologis. Contohnya adalah bentuk interpretasi dari Qurban itu sendiri.

Menarik sekali pandangan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, 1995) tentang hal ini. Menurutnya, Kosmopolitanisme peradaban Islam tercapai atau berada pada titik optimal, manakala tercapai keseimbangan antara kecenderungan normatif kaum muslim dan kebebasan berfikir semua warga masyarakat. Artinya, di sini ada unsur kreatif untuk membentuk inisiatif, nuansa dan nafas baru bagi ajaran dan doktrin Islam. Bentuk-bentuk normatif ajaran agama yang dipahami secara letter lijk perlu ditafsirkan agar tidak terlalu menghimpit.

Dari sini, Inti dari perintah ber-qurban adalah ketaatan dan ketundukan kepada perintah-perintah Tuhan. Menyadari ke-Agungan-Nya, dan tumbuh berkembangnya komitmen sosial-kemanusian. [ ]

Abdullah Hanief, Alumnus PP Futuhiyah Mranggen Demak Jawa Tengah  
 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014


*Registrasi & Matrikulasi*
1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki


*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)

Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"

==()==

PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014

*Registrasi & Matrikulasi*

1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki

*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)


Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"




ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren